Minggu, 09 Oktober 2011

Makna di Balik Senyum Sang Pengemis Cilik

"Terlambat, terlambat!" aku terus-menerus meruntuk dalam hati. Kulirik jam tanganku yang kini menunjukkan pukul sebelas kurang tiga menit. Kalau mengingat waktu janjianku bersama teman-temanku adalah pukul sebelas tepat, sudah dipastikan kalau aku pasti terlambat.
Aku menyeka keringat yang mengalir di dahiku. Ah, rasanya matahari hari ini terlalu bersemangat memancarkan sinarnya. Bahkan akupun yang berada di dalam angkutan kota pun —setidaknya aku bersyukur aku tidak tergolong dalam golongan orang-orang yang berada di luar sana yang sedang melakukan berbagai kegiatan: berdagang, menunggu seseorang, menunggu angkutan, atau yang paling menyedihkan; mengemis— merasakan teriknya sang surya.
Kalau begini barulah ibukota Jakarta menampilkan wujudnya yang sesungguhnya: penat. Ironis memang, di saat para pejabat kaya sedang bersenang-senang dengan uang rakyat, kenyataanya rakyatnya justru menderita lahir-batin.
Karena inilah sesungguhnya realitas kota Jakarta yang tersembunyi di balik megahnya bayang-bayang gedung pencakar langit yang begitu mewah. Di balik segala keindahan yang absurd, ada segelintir —tidak, dominan dalam hal ini— orang-orang yang harus bekerja keras mencari nafkah demi mendapatkan sesuap nasi. Mereka yang sesungguhnya layak mendapatkan kehidupan lebih baik, tapi nyatanya justru harus menanggung beratnya beban kehidupan sendiri. Tanpa saudara. Tanpa ada sesorang yang dapat berbagi segala keluh-kesah dengan mereka.
Hatiku terasa teriris memikirkan bagaimana mereka hidup. Tanpa adanya rumah tempat mereka berlindung dari segala tempaan cuaca, aku tak dapat membayangkannya, sungguh.
Rumah. Rasanya kata itu terasa begitu familiar di telinga kita semua. Rumah tempat kita berbagi, rumah tempat kita melepaskan segala penat, rumah tempat kita berteduh. Ah, mengingatnya membuatku merasa sangat bersyukur.
"Ka…, minta uang untuk beli susu adik saya, Ka…" aku tersentak begitu seorang bocah cilik berpakaian lusuh mendekati angkutan kota yang kutampangi ini. Wajahnya hitam dan kotor, khas para pengemis yang setiap hari harus berpaparan langsung dengan sinar matahari. Rambutnya memerah dan kusam, mengingatkanku pada anak-anak kurang gizi yang sesekali ditampilkan beritanya di televisi.
Aku masih termenung memandangi anak itu ketika supir angkot yang tampaknya sedang kesal itu memaki si anak dengan kata-kata kasar, "Heh, Gembel! Pergi sana!"
Aku terkejut mendengar sang supir mengeluarkan kata-kata itu. Demi Tuhan, anak itu hanya sekitar delapan tahun! Bagaimana mungkin sang supir dapat mengeluarkan makian seperti itu padanya? Ia bahkan tidak melakukan apa-apa, ia hanya meminta! Salahkah kalau nasibnya mengharuskannya menjadi seorang pengemis cilik? Salahkah kalau ia hanya dapat meminta di usianya yang masih sangat belia, ketika anak-anak lain yang seumuran dengannya justru sedang bermain dengan segala barang mewah?
Aku baru saja mau menegur sang supir ketika seorang ibu di sebelahku justru membela sang supir. "Iya! Pergi sana! Udah panas, minta-minta lagi! Hush, hush!"
Astagfirullah, aku beristigfar dalam hati. Ibu-ibu ini… ugh. Aku baru saja berpikir ia akan memberi anak itu uang, melihat penampilannya yang memang terlihat begitu mewah. Tangannya memegang sebuah tas bermerk yang kuketahui harganya mahal. Cincinnya pun terlihat mahal dengan sebuah batu safir hijau yang memang sangat indah. Lantas aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin ibu-ibu yang penampilannya sedemikian mentereng ini enggan memberikan selembar uang seribuan pada seorang pengemis cilik?
Aku mendengus kencang, berharap mereka sedikit saja tersinggung. Kurogoh saku-ku dan kukeluarkan uang dua ribuan milikku, berniat memberikannya pada si pengemis.
"Mau ngapain, Dik?" seorang bapak di hadapanku memandangku heran. Aku balas menatap matanya yang menyiratkan rasa bingung.
"Mau ngasih ke adik ini." balasku singkat. Orang-orang di dalam angkot memandangku kesal.
"Buat apa?" seorang mahasiswa di bangku pojok bertanya dengan nada meremehkan.
Aku balas menatap matanya dengan defensif. "Ya untuk adik ini. Buat beli susu adiknya." balasku mulai kesal. Kutatap pengemis cilik itu. Tanganku terulur untuk memberikan uang itu ketika tiba-tiba angkutan kota itu melesat dengan cepatnya.
Ah. Ternyata sudah lampu hijau.
"Pak, kenapa langsung jalan, sih? Kasihan tahu anak itu, saya belum sempat memberinya uang!" omelku kesal pada sang supir angkot yang anehnya justru terkekeh geli.
"Mbak, yang kayak begitu jangan dikasih! Mereka itu malas, dan asal mbak tahu, di pojok-pojok jalan raya, ada para preman yang nantinya menjadi tempat setoran anak-anak gembel itu." supir angkot itu masih terkekeh. Aku termenung.
Aku tahu, aku sering menyaksikan berita di televisi yang mengatakan kalau ada dalang di balik setiap anak jalanan. Tapi aku sendiri memutuskan tidak ambil pusing terhadap hal itu. Bagaimanapun niatku hanya membantu. Mereka mungkin akan dipukuli kalau tidak dapat memenuhi keinginan sang preman. Dan membayangkannya saja membuatku bergidik ngeri.
Aku baru saja akan membalas argumen itu ketika handphone bergetar, menandakan adanya sms masuk yang berbunyi: "Nic, kamu di mana? Kita udah hampir mateng nih nungguin kamu! Lihat sekarang jam berapa!"
Aku membeku. Kulirik arloji biru-ku. Oh, pukul setengah dua belas —HEI! Artinya aku telat tiga puluh menit!
"Pak, ngebut dong!" oow. Dasar manusia. Pada akhirnya, manusia akan mendahulukan kepentingannya dan melupakan kepentingan orang lain… seperti aku.
xXx
"Empat puluh tujuh menit tiga puluh sembilan detik…" sapaan bernada muram dari Arjuna menyambutku. Alisnya melengkung, bertemu di satu titik. Wajahnya yang putih memerah —aku tidak tahu memerah karena kesal, atau karena tersengat terik matahari.
Maya yang berada di sebelahnya mendengus kesal, melirikku dengan tatapan menyindir. "Namanya juga Monica! Kalau dia ontime, artinya dunia udah mau kiamat!" katanya sarkasme.
Aku baru saja mau membela diri ketika Cahaya membelaku, "Udah deh… salah kita juga ngasih tahu Monica kalau janjiannya jam sebelas! Kalau mau ngasih tahu dia, ya harusnya sejam sebelum waktu janjian kita! Jadi, Tyo, harusnya kamu ngasih tahu Monica kalau janjiannya jam sepuluh! Baru deh dia dateng jam sebelas!" uuh. Kukira Cahaya benar-benar membelaku, ternyata menyindir juga!
"Padahal dia yang ngusulin kalau liburan kali ini kita pergi berburu buku, tapi malah dia yang ngaret…" Tyo ikut-ikutan.
Aku tersenyum masam menanggapi mereka. "Iya, iya… maaf deh. Udah yuk, langsung jalan. Nanti tambah panas nih…" kataku tidak enak.
Lagipula, tidak enak juga berlama-lama di sini. Warung es kelapa ini memang sudah lama menjadi tempat ngumpul kami, tapi bagaimanapun kami masih tahu malu.
"Omong-omong," suara Maya terdengar bingung, "yakin nih mau nyari buku di Pasar Senen? Di situ 'kan kumuh, enggak banget deh…" Maya merajuk. Aku menghela napas. Sifat manja Maya keluar.
Arjuna menggeleng-gelengkan kepalanya. "Please, deh, Maya, hari gini masih mentingin gengsi? Di senen emang kumuh, tapi kamu harus tahu, kita bisa menghemat biaya pengeluaran sampai enam puluh persen, you know?" katanya sok bule. Aku tersenyum geli. Di antara kami memang Arjuna yang paling irit. Ups, ralat. Bukan irit, tapi pelit.
Aku mengangguk menyetujui argumen Arjuna. "Iya, Maya. Hari gini masih mikirin gengsi tuh rugi!" kataku sok menggurui. Yang lain ikut mengangguk menyetujuiku.
Maya merengut kesal, "Iya deh, iya!"
Dan dengan kalimat itu, kami melesat menuju Pasar Senen.
xXx
"Tadi aku lihat ada pengemis cilik di lampu merah, begitu mau aku kasih uang, supir angkotnya langsung jalan…" aku membuka percakapan ketika kami semua berada dalam busway.
Arjuna terseyum mengejek, "Please deh, Nic. Mereka tuh biasanya bohong! Paling juga sebenarnya mereka tuh anak-anak mampu yang disuruh kerja sama orang tuanya!"
Aku menggeleng lemah. "Tapi 'kan kasihan…"
Arjuna berkata lagi, "Jangan naif, Nic. Kita harus lihat kenyataan, kalau sebenarnya memang itulah yang terjadi. Kamu nggak bisa selamanya berargumen 'sebenarnya semua orang baik, cuma mereka enggak tahu cara mengekspresikannya'. Itu pemikiran tanpa esensi yang naif."
Aku menatap Arjuna dengan kesal, tak mau kalah. "Tapi biar bagaimanapun, mereka juga manusia. Kita gak bisa tutup mata tutup telinga kalau lihat ada orang kesusahan di depan mata, 'kan?" balasku. Oke, sedikit-banyak yang dikatakan Arjuna benar –pemikiranku mungkin memang terlalu naif. Tapi… tanpa esensi, dia bilang? Aku jelas tidak terima.
"Kita emang gak bisa tutup mata tutup telinga, tapi itupun kalau memang orang itu benar-benar butuh bantuan. Kamu 'kan enggak tahu kalau mungkin saja sebenarnya para pengemis itu lebih kaya dari kita. Bisa aja mereka menjadikan mengemis semacam… pekerjaan?" Arjuna memulai lagi.
Aku mendengus kesal, merenungi perkataan Arjuna. Ya, ya… aku sadar benar bahwa apa yang dikatakan Arjuna sangat logis. Harus kuakui, cara pikir Arjuna yang selalu memandang sesuatu dari segi rasionalitas patut diacungi jempol. Berbeda denganku yang mungkin dipengaruhi perasaan seorang wanita, aku lebih berpihak pada perasaanku ketimbang logika. Ya, khas wanita.
Tapi lagi-lagi harga diriku menolak untuk menyerah dan menyetujui perkataan Arjuna. Mulutku baru saja terbuka untuk membalas ketika Arjuna kembali menginterupsiku, "Dan jangan lupa. Pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang yang melarang siapapun memberikan apapun kepada para pengemis, pengamen, bahkan pengelap kaca mobil. Perlu aku bacain isinya?" katanya angkuh.
Ah, berpikir secara rasional agaknya membuat Arjuna melupakan satu hal yang jauh lebih penting: rasa kemanusiaan. Dan aku sudah terlalu malas untuk adu argumen lebih lanjut dengannya.
"Pemberhentian selanjutnya… Pasar Senen." suara dari speaker menyadarkan kami untuk segera bersiap turun. Dengan seksama, kami pun melangkah keluar busway.
"Ah, perut Maya lapar!" Maya merajuk. Tangannya memegangi perutnya.
Aku tersenyum kecil. "Makan dulu, yuk! Maya kalau lagi lapar seram lho…" gurauku. Mereka tersenyum kecil. Kulirik arlojiku, pukul satu. Memang benar-benar jam makan siang.
"Shalat dulu, baru makan." Tyo memberi komentar. Cahaya mengangguk. Kalau soal agama, Tyo dan Cahaya memang paling tidak bisa diganggu gugat.
Begitu memasuki areal mushala di Senen, seorang pengemis cilik menghampiri kami. Melihat penampilannya, tanpa perintah otakku segera memberi sinyal untuk membandingkan penampilannya dengan pengemis yang kutemui di jalan tadi. Mereka sama-sama terlihat… kurang makan-makanan bergizi.
"Ingat Nic, jangan dikasih." Arjuna mengingatkanku ketika tanganku mulai menggerilya saku-ku, mencari satu-dua lembar uang seribuan.
"Kenapa sih? Mau berbuat baik kok dihalangin…" kataku kesal. Dalam hati aku meruntuk. Tadi orang-orang dalam angkot, sekarang temanku sendiri! Ada apa sih dengan mereka semua? Apa mereka tidak punya rasa iba pada anak-anak kurang beruntung ini?
Bukan salah mereka kalau mereka tidak beruntung, kan? Lagipula siapa sih yang mau memilih dilahirkan dalam keluarga yang kurang mampu?
"Mbak, saya lapar…" katanya lirih. Matanya mengiba, membuatku dengan cepat segera merasa simpati padanya.
Di belakangku, seorang bapak berteriak. "Jangan dikasih, Dek! Uangnya bukan buat mereka, tapi buat orang tua mereka!"
Duh, godaan. Mau tidak mau otakku merapuhkan tekadku. Aku menghela napas panjang, berusaha memikirkan yang terbaik.
"Ya udah, Mbak, gak apa-apa." Sekali lagi lirih suaranya membuatku ingin sekali memberikan uang ini. Tapi mencoba berpikir secara rasional nyatanya membuatku kehilangan rasa kemanusiannku. Tubuhku tak bergerak, tak mengejarnya dan mataku hanya terpaku manatap punggung bocah cilik yang semakin menjauhiku itu.
Begitu punggungnya tak lagi terjangkau dengan sudut pandang mataku, suara Tyo mengagetkanku.
"Sudah pukul satu lewat lima belas, nih. Ayo shalat." katanya pelan. Yang lain mengikutinya menuju mushala sederhana itu.
"Aku tunggu di sini saja, ya… Aku lagi haid." kataku jujur. Mereka mengangguk. Begitu mereka memasuki mushala, aku segera mengistirahatkan tubuhku dengan kursi kayu lapuk yang berada di dekat situ.
Menunggu memang bukan kegemaranku. Sejujurnya, aku bahkan punya prinsip lebih baik terlambat daripada menunggu. Yah, sangat-sangat subyektif memang. Tapi kebanyakan orang memang menilai kalau cara berpikirku memang unik dan berbeda dari kebanyakan orang.
Duduk dan berdiam membuat pikiranku menjadi melayang. Aku kembali mengingat pengemis cilik tadi. Menyesal rasanya lebih mendengarkan omongan orang ketimbang kata hatiku sendiri. Walau bagaimanapun, harusnya aku membantu mereka, bukan bersikap acuh layaknya para pemimpin negara yang berpura-pura bersikap peduli pada rakyatnya tapi pada kenyataannya sama sekali tidak bertindak.
Padahal aku benci orang-orang yang henya bisa mengatakan sesuatu di mulut, bukan melakukan dengan tindakkan. Tapi kenyataannya, aku baru saja menjadi seperti itu. Aku bahkan melupakan fakta kalau bahwa selama ini aku selalu berprinsip hidup bukan untuk diri sendiri.
Oh, Tuhan… aku merasa sangat berdosa. Bagaimana mungkin aku melupakan segala pandangan hidup yang selama ini kuanut? Bagaimana mungkin aku melupakan ajaran orang tuaku, bahwa aku harus selalu berbagi terhadap seksama? Bagaimana mungkin… bagaimana mungkin…
"Hoy! Ngelamun!" suaru cempreng Cahaya mengejutkanku. Huh, ternyata aku terlalu asyik tenggelam dalam pertentangan batinku. Setelah konflik ide antara aku dan Arjuna tadi berlangsung, dengan bodohnya aku membiarkan diriku terjadi pertentangan batin. Dasar, membuatku lelah saja.
Mereka semua ternyata sudah selesai shalat. Karena itu kami memutuskan untuk makan dulu, baru hunting buku. Apalagi aku memiliki penyakit maag, jadi mereka memaksa untuk makan dulu.
Baru beberapa langkah dari mushala, aku melihat segerombolan orang berkerumun di salah satu sudut pertokoan. Yang pria tampak beringas dan berteriak sesuatu seperti, "Hajar terus!" atau, "Jangan diampuni!", sedangkan yang wanita kebanyakan menutup mulut sambil menangis.
Aku mengernyitkan kening. Ada apa, ya? Kenapa firasatku sedemikian buruk?
Kulangkahkan kakiku menuju kerumunan orang itu ketika tangan teman-temanku menahanku. "Mau ke mana kamu?" mereka melihatku dengan pandangan curiga.
Aku menunjuk kerumunan orang itu. "Aku mau lihat—"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Tyo mengintrupsiku dengan gemas. "Gila kamu! Itu paling orang pasar yang berantem! Kalau kamu kena sasaran gimana?" katanya emosi. "Kalau mau ngelakuin hal tuh pikir panjang dulu, Nic!"
Aku mendengus sebal. "Biarin kenapa sih! Kalian tunggu di sini saja kalau takut!" kataku keras kepala. Aku memang sangat lemah dalam urusan mengontrol emosi dan rasa penasaranku.
Mereka geleng-geleng kepala melihat kekeras kepalaanku. Mereka mengerti kalau aku tak akan bisa dicegah kalau sudah ingin melakukan sesuatu, jadi dengan enggan, mereka akhirnya mau menemaniku melihat apa yang terjadi, dengan syarat kalau keadaan gawat kami harus segera lari.
Dengan takut-takut –tentu saja aku pengecualian dalam hal ini— kami mendekati kerumunan itu untuk memeriksa apa yang terjadi. Mungkin saja beritanya cukup heboh untuk dimuat di majalah sekolah, ekskul tempatku bernaung.
Sayangnya, kerumunan orang itu terlalu ramai untuk diterobos, jadi kuputaskan untuk bertanya pada seorang ibu yang kelihatannya shock sekali melihat kejadian itu.
"Ada apa, Bu?" tanyaku pelan. Ibu itu malah menangis begitu kutanya.
"A-ada anak kecil… mencuri… dipukuli…" katanya terbata. Suaranya bergetar, membuatku tidak dapat mendengarnya dengan jelas.
Anak kecil. Mencuri. Dipukuli.
Otakku mulai bekerja mencerna informasi tersebut. Tiba-tiba dadaku berdegup kencang. Mungkinkah… anak itu… pengemis yang tadi?
Astagfirullah, jangan, Tuhan, jangan… Aku berdoa dalam hati.
Mengandalkan kekuatan tekadku, kuterobos kerumunan orang itu, berusaha melihat anak malang mana yang harus mendapat penghakiman massal seperti ini. Kuhiraukan teriakan teman-temanku yang melarangku masuk.
Kali ini saja, biarkan kekuatan tekadku menang.
Langkahku terhenti ketika akhirnya aku dapat melihat sesosok tubuh kurus tak berdaya yang kini berlumuran darah itu.
Rambut hitam kemerahan itu… Mata bulat itu… Kulit kehitaman itu…
Aku tak mampu lagi bersuara. Rasanya ada yang menganjal tenggorokkanku dan dengan paksa menarik pita suaraku, membuatku hanya dapat tergagap tak percaya; antara ngeri melihat darah yang menetes-netes dari anak itu dan rasa bersalah yang dengan cepat menyergapku.
Itu dia… yang terbaring tak berdaya itu dia… pengemis cilik tadi.
Mulutku terbuka, hendak meneriakkan kata-kata, "BERHENTI!" pada para pria yang masih memukuli anak itu, tapi aku tak mampu mengeluarkan kata-kata apapun. Oh, bahkan saat ini, aku tidak pingsan pun merupakan keajaiban.
Aku terus menerus menangis memandang wajah lebam anak itu, aku ingin sekali menghentikan ini… tapi tidak bisa.
"BERHENTI! CUKUP!" sebuah suara lantang mengejutkanku. Itu suara Arjuna dan Tyo, aku kenal benar suara mereka. "ADA POLISI! STOP!" suara mereka bergema lagi.
Dalam hitungan detik, pada pria yang memukuli anak itu kocar-kacir ke segala arah, meninggalkan sesosok tubuh anak kecil yang kini sedang berjuang melawan maut.
Aku gelagapan, tangisku makin kencang melihat anak itu kini memandangku. Aku takut darah… aku takut darah… aku tidak bisa menghampiri anak itu.
Tapi aku merasa berdosa… sangat. Kupaksakan kakiku melangkah menghampiri anak itu. Aku masih mendengar suara Cahaya terdengar panik ketika meneriakkan, "Panggil ambulance!"
"Maaf…" suaraku bahkan terdengar aneh di telingaku sendiri. "Maaf… maaf… maaf." aku mengulanginya berkali-kali, walau sejujurnya tak tah pada siapa dan untuk apa aku mengucapkan kata-kata itu.
Entah keberanian darimana, kukeluarkan sapu tangan kesayanganku dan kutekan luka sobek di dahi anak itu. Pendarahannya cukup banyak, dan sebagai salah satu anak Palang Merah Remaja di sekolah, ini saatnya untuk menerapkan kemampuanku untuk menolong orang.
Anak itu mengernyit kesakitan, tapi sudut-sudut bibirnya yang sobek membentuk sebuah… senyum? Untuk apa? Untuk keegoisan dan kebodohanku yang lebih memikirkan kata-kata orang lain ketimbang perasaanku? Untuk membuatnya menjadi babak belur seperti ini!
"Kenapa… mencuri…" omonganku mulai tak karuan. Aku bermaksud menanyakannya agar ia tak kehilangan kesadaran, karena akan semakin gawat kalau hal itu terjadi.
Anak itu masih tersenyum, mungkin sedikit bingung apa maksud dari kata-kataku. Aku bermaksud mengatakan, "Kenapa kau mencuri, Dik?" tapi yang keluar hanya gumaman-gumaman tak jelas yang bahkan teredam tangisku.
"Aku lapar… tidak ada uang…" katanya parau.
Hatiku serasa ditusuk samurai mendengarnya. Kalau saja tadi aku memberinya uang, mungkin tidak akan seperti ini… Kalau saja tadi aku menuruti kata hatiku, pastilah anak ini masih baik-baik saja… Kalau saja…
"Kakak baik…" katanya lirih, nyaris tak terdengar olehku. "Aku tahu kakak baik… aku lihat dari mata kakak…"
Tangisku semakin kencang mendengar kata-katanya. Setelah semua kejadian ini, ia masih menganggapku baik? Setelah semua yang kulakukan… ia masih menganggapku baik?
"Kakak cengeng…" katanya lagi. Senyum di bibirnya semakin lebar, dan sedetik kemudian ia kembali meringis.
Aku tercekat. Bagaimana mungkin… bagaimana mungkin anak ini…
"Kalau aku mati, aku akan minta sama Tuhan supaya kalau aku lahir lagi, aku punya kakak kayak kakak!" katanya polos. Matanya layu, dan tampaknya anak itu sudah tidak kuat lagi.
Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Aku benar-benar merasa berdosa…
Mata anak itu sedikit demi sedikit tertutup, seiring dengan pandanganku yang tiba-tiba juga megabur. Dan yang terakhir kudengar adalah teriakan teman-teman memanggil namaku.
xXx
Aku membuka mataku perlahan, dan terkejut begitu menyadari bahwa yang pertama kulihat adalah wajah ibuku.
"Aku di mana?" heh, dulu aku sering mengejek para pemain sinetron yang bangun-bangun selalu mengucapkan 'aku di mana', tapi kenyataannya sekarang aku melakukannya.
Ibuku tersenyum dan memelukku. "Kamu di rumah sakit…" katanya lembut. Tangannya membelai rambutku dengan lembut. "Kamu pingsan tadi."
"Tadi?" aku mengingat-ingat kejadian sebelum pingsan. Darah… kata-kata polos… senyum… anak kecil…
Tunggu. Anak kecil.
"Di mana anak itu, Bu?" kataku tak sabar. Jangan-jangan anak itu…
Ibuku tersenyum lembut sekali lagi. "Dia di ruang ICU. Tapi dia selamat. Kata dokter, untuk pertolongan pertama yang kamu berikan tepat, jadi nyawanya masih selamat." raut wajahnya berbinar. "Ibu bangga sama kamu."
Aku tersenyum masam. Setidaknya… aku masih bisa menebus kesalahanku.
"Bu?" tanyaku takut-takut. Sebuah ide gila terlintas begitu saja di benakku.
"Kenapa, sayang?" tanyanya lembut. Tangannya sibuk membereskan barang-barangku.
"Kalau kita… angkat anak itu gimana?" tanyaku takut-takut. Terdengar gila memang, tapi kurasa ideku tidak buruk.
Ibu menghentikan aktivitasnya. Matanya menatap mataku dengan teduh. "Nggak bisa, sayang… Kamu punya adik, dan kamu tahu ayah dan ibu sama-sama kerja. Kita justru akan dosa kalau kita mengangkatnya menjadi keluarga kita tapi kita tidak mengurusnya…" jelasnya sabar.
Aku mengangguk mengerti. Tapi…
"Ah. Tapi ibu punya kenalan sebuah panti asuhan. Kalau anak itu masuk ke sana, kamu tetap bisa bertemu anak itu kapanpun kamu mau, kan?" penjelasan ibu membuatku tertegun.
"Benar, Bu?"
"Ya."
Alhamdulillah, Alhamdulillah… aku mengucap syukur dalam hati. Terima kasih Allah, aku tahu engkau selalu memberi jalan terbaik…
-Tamat-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar